"Just because you can't see it, doesn't mean it isn't there" - Laut bukan tempat sampah!

11/20/10

Cerita Pendek (Cerpen)

JODOH


 Oleh: Ifa Abdoel

 Menikah… Dua insan yang saling mencintai akan menyempurnakan cintanya lewat ikatan suci pernikahan. Tapi mengapa terasa sulit bagiku untuk menyempurnakan cinta...

Banyak yang bingung dan sering bertanya mengapa hingga saat ini aku belum menikah. Mereka bilang wajahku cukup cantik, tubuhku lumayan proporsional dan aku memiliki pendidikan dan pekerjaan yang cukup baik, sebagai seorang jurnalis.

Aku bukannya tidak ingin menikah, aku hanya belum menemukan pria yang cocok untuk menjadi pendamping hidupku. Mereka bilang aku terlalu pilih-pilih... Biarlah, aku tak peduli...

Di keluargaku, semua kakak laki-lakiku telah menikah, hanya aku yang belum. Hebatnya, ibu tidak pernah memaksaku untuk segera menikah. Ibuku termasuk perempuan yang berpikiran modern. Ia selalu membelaku saat aku diberondong pertanyaan yang ’menyudutkan’ seperti,
”Apa perlu kita cariin jodohnya?”
Atau, ”Itu ada anaknya si A, masih bujang, sudah mapan, ganteng lagi, mau nggak dikenalin?”
Lalu, ”Jangan lama-lama sendiri, kasihan nanti kalau punya anak, anak masih kecil-kecil kamunya udah keburu tua.”

Huh, menyebalkan!

----
Siang itu aku dan keempat sahabatku sengaja berkumpul di sebuah cafe di bilangan Tebet, Jakarta Selatan untuk makan siang. Biasanya, topik yang kami bicarakan beragam. Kali ini masalah pernikahan menjadi isu utama perbincangan kami.

By the way, gimana kabar cowok bule lo Mill?” tanyaku pada Camille. Camille salah satu sahabatku, usianya 35 tahun. Ia bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil.

Alhamdulillah baik, dua minggu lalu putusan cerai dari pengadilan udah keluar. Sekarang dia udah resmi cerai dari istrinya,” jawab Camille sambil menenggak jus mangga favoritnya.
“Kalo gitu bentar lagi lo resmi jadi istrinya dong,” seruku tertahan.

“Berkali-kali gue udah minta dia untuk datang ke Jakarta untuk ngelamar gue, ketemu orangtua gue, tapi dia belum bisa melakukan itu,” kata Camille cemberut.
“Emang masalahnya apa lagi sih? Kan udah resmi cerai dari istrinya?”

”Masalahnya uang. Katanya dia belum punya cukup uang untuk membahagiakan gue.”
Aku melongo... setahuku, cowok bule yang ditaksir Camille punya pekerjaan yang lumayan di negeri asalnya, sebagai dosen di sebuah universitas di Melbourne, Australia.

Camille sendiri bertemu dengan Gerald di Melbourne sekitar lima tahun yang lalu. Waktu itu Camille berada di Australia selama tiga bulan untuk mempelajari seluk beluk printing and management printing dan Gerald yang menjadi tutornya.

Camille tahu Gerald telah beristri. Hubungan Gerald dan Camille hanya sebatas guru dan murid. Usai mengikuti pelatihan, Camille kembali ke Jakarta. Beberapa bulan kemudian, giliran Gerald yang datang ke Jakarta untuk memberikan pelatihan di tempat Camille bekerja.

Camille yang sebelumnya telah mengenal Gerald dengan baik, tentu saja senang melihatnya datang ke Jakarta. Ia kerap menemani Gerald mengunjungi tempat-tempat wisata di Jakarta dan juga berbelanja kebutuhan sehari-hari.

Intensitas pertemuan keduanya yang begitu sering tak pelak menumbuhkan perasaan aneh pada diri Camille. Hatinya selalu merindu Gerald dan Camille tidak bertepuk sebelah tangan.

”Sejak awal kita dekat, dia udah cerita kalo hubungannya dengan istrinya udah nggak harmonis... Jadi, gue nggak merebut suami orang,” Camille membela diri saat kami mempertanyakan hubungannya dengan pria beristri.

Perbedaan usia antara Camille dan Gerald cukup jauh, sekitar 15 tahun. Memang kalau melihat Camille sedang bersama Gerald, lebih mirip anak dengan ayahnya.

Kini, Gerald sudah resmi bercerai dengan istrinya. Lantas apa lagi yang ditunggu Gerald? Itu pertanyaanku selanjutnya pada Camille.
”Walaupun keputusan cerai sudah resmi. Tapi masalah harta gono gini masih berlanjut di pengadilan. Mantan istrinya minta pembagian yang besar. Gerald khawatir akan kalah di pengadilan, makanya dia minta gue nunggu,” kata Camille.

Empat tahun Camille menunggu Gerald, setia... Tak pernah sekalipun aku mendengar ia membicarakan pria lain selain Gerald. Tak pernah sekalipun aku melihat ia jalan dengan pria lain  selain Gerald...

Hal yang sama juga terjadi pada Azmi, sahabatku yang lain, belum menikah  walaupun usianya sudah 38 tahun.  Seperti Camille, Azmi juga menjalin hubungan dengan pria bule.  Pekerjaannya di NGO asing membuat Azmi kerap berurusan dengan pria-pria bule. Tapi hanya satu nama yang terekam di otaknya, Francois, seorang pria asal Perancis.

Pertemuan Azmi dan Francois terjadi saat bencana Tsunami melanda Aceh. Mereka berdua merupakan ahli water sanitation. Bahu membahu mereka memulihkan kondisi air bersih di Meulaboh dan Sigli, dua daerah yang hancur lebur saat tsunami menerjang Aceh,  Desember 2004.

Selama kurang lebih 2 tahun Azmi menjalin hubungan platonis dengan Francois, hubungan yang secara emosional dekat, saling sayang dan perhatian tapi tanpa pernyataan cinta... Aku sendiri sempat bingung dengan hubungan seperti itu. Buatku, cinta itu harus dibuktikan tidak hanya oleh perbuatan tapi juga oleh ucapan I love you.

Setelah kontrak kerjanya habis, Francois tidak ingin memperpanjang tugasnya di Aceh. Ia memutuskan untuk pindah ke Vietnam, bekerja di sebuah palang merah internasional yang membantu masyarakat di sana. Ia pun meninggalkan Azmi yang saat itu sedang jatuh cinta berat padanya.

Cinta platonis yang terjadi pada Azmi tak lepas dari kesalahan yang ia perbuat. Azmi terlalu angkuh pada dirinya sendiri. Ia tidak pernah mengakui bahwa pesona Francois telah menjalar ke hati hingga ke sum-sum tulangnya. Ia selalu menolak sentuhan cinta yang dibawa Francois. Azmi berubah menjadi pribadi yang egois dan penuh penyangkalan bila berhubungan dengan cinta.

Azmi merupakan pribadi yang kini mulai banyak ditemui di Jakarta. Seorang perempuan cerdas, mandiri, idealis dan suka tantangan. Secara terang-terangan Azmi mengaku tidak menyukai pria Indonesia. Katanya, pria Indonesia terlalu mengagungkan budaya patriarkhi, istri harus berada di rumah, melakukan pekerjaan domestik dan harus siap melayani suami di atas ranjang.
"Pribadi yang kini mulai banyak ditemui di Jakarta. 
Seorang perempuan cerdas, mandiri, idealis dan suka tantangan."
Azmi mendambakan perlakuan yang equal antara pria dan wanita saat berumahtangga. Menurutnya, suami dan istri harus saling menghargai dalam hal apapun. Ia ingin agar prianya juga mau melakukan pekerjaan domestik serta mengijinkannya bekerja di luar rumah untuk mengembangkan potensi.

Ia setuju bahwa pria adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Tapi ia menyesalkan mengapa hal itu kerap digunakan kaum pria untuk merendahkan kaum perempuan, menyakiti hatinya, merampas hak-haknya dan memaksakan kemauannya.

Padahal, pengertian pemimpin bagi kaum perempuan adalah sebagai pemimpin dalam menjalankan kewajiban kepada Tuhan, melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi kemaksiatan. Karena laki-lakilah yang bertanggungjawab atas nafkah dan kebutuhan perempuan lainnya.

Dalam kamus hidupnya Azmi hanya tahu bahwa pria yang layak mendampinginya harus lebih pintar dan lebih hebat pekerjaanya daripada dirinya. Francois-lah yang mampu membuatnya bertekuk lutut. Pria Prancis ini telah membuat hati Azmi terbang melayang menggapai bintang, sekaligus membuatnya jatuh terhempas keras di atas karang. Kepergian Francois tanpa sekalipun menyebut kata cinta, sangat memukul hati Azmi.

Siapa sangka Azmi yang begitu angkuh pada cinta, kini menjadi hamba cinta. Selama dua tahun, sejak Francois pergi, malam-malam Azmi dihabiskan dengan bersujud pada Ilahi, meminta petunjuk dimana gerangan sang kekasih hati.

”Kalo Tuhan mengabulkan doa gue dan gue ketemu lagi sama Francois, gue akan  bilang ke dia kalo gue sayang banget sama dia, gue cinta banget sama dia,” aku Azmi pelan.
Surprise... Aku tak menyangka si kepala batu ini akhirnya mengaku jatuh cinta...

”Jadi, gimana perasaan lo sekarang sama Francois? Masih cinta?” tanyaku siang itu.

Ia tersenyum. Ada kilatan bahagia di ujung matanya. ”Sekarang ada cowok lain yang lagi gue suka... bule Inggris,” tambahnya.

”Namanya James, gue kenalan via facebook. Awalnya dia ngundang gue untuk jadi temannya. Tapi lama-lama dia pengen jadi pacar gue, bahkan kemarin dia ngelamar gue!”

”Ah gila... emang lo udah pernah ketemu sama dia?” Irin penasaran.
”Belum... selama ini komunikasi kita cuma via internet and telepon,” kata Azmi sambil tersenyum manis sekali.
”Trus lo mau diajak merit sama dia?” tukas Camille.

”Gue harus ketemu dia dulu, face to face. Setelah itu baru gue ambil keputusan.”
“Dia kerja dimana?” tanya Viny.

Machine engineer untuk kapal laut. James tiga tahun lebih tua dan sepertinya dia cukup dewasa and  bisa jadi partner hidup gue,” jelas Azmi.
“O… pantes,” batinku.

“Kalo lo sendiri gimana Rin?” Tanya Camille sambil memasukkan mie tiaw ke mulutnya.
Yang ditanya cuma nyengir kuda dan menjawab kalem, ”Kan gue udah bilang, sampai saat ini gue belum tertarik untuk nikah.”

Irin memang terlihat yang paling cuek diantara kami. Walaupun usianya telah 33 tahun, ia enggan menikah. Irin yang bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil ini pernah bercerita padaku, seumur hidupnya ia hanya pernah mencintai satu orang pria. Pria itu teman sekelasnya di SMU, namanya Andi.

Saat lulus SMU, Andi melanjutkan kuliah ke Kairo, Mesir. Lewat surat yang dikirim Andi secara rutin, rindu hati Irin terobati. Hingga tahun kedua, surat-surat dari Andi masih lancar diterima Irin. Tapi memasuki tahun ketiga, Irin mulai malas membalas surat-surat Andi. Sampai akhirnya, surat-surat dari Andi terhenti total, mereka putus...

Usai menamatkan sarjananya di Kairo, Andi kembali ke Jakarta dan berupaya kembali merebut cinta Irin. Tapi Irin menolaknya. Dari Irin aku tahu bahwa sebenarnya ia masih mencintai Andi, namun Andi telah mengkhianatinya. Saat kuliah di Mesir, Andi pernah menjalin hubungan dengan perempuan lain.

Irin tidak mengatakan padaku dari mana ia mengetahui hal itu. Ia hanya tidak suka dikhianati. Mungkin bagi Irin, tidak ada kata maaf bagi pengkhianat...

Yang membuatku tak mengerti, saat Andi memutuskan untuk menikah dengan perempuan lain, Irin menangis tergugu. Entah apa yang ada dipikirannya saat itu. Tapi yang aku tahu, sejak itu Irin tidak pernah dekat atau membicarakan pria manapun. Ia sibuk memperkaya diri dengan ilmu, menyelesaikan kuliah S2-nya, ikut program short course di Belanda, serta mengambil kursus bahasa Jerman dan Prancis.

Viny sedang asyik mengunyah kentang goreng saat ia berkata, ”Gue cuma bisa berdoa semoga Tuhan segera mempertemukan gue dengan jodoh gue, amin...”

Viny anak tertua di keluarganya, anak perempuan satu-satunya dan belum menikah. Usianya 33 tahun. Ia bekerja sebagai accounting di sebuah perusahaan tambang batu bara yang berpusat di Kalimantan Selatan.
Viny merupakan gadis yang selalu mencari tantangan dalam cinta. Ia selalu menyukai pria mapan dan beristri.
”Nggak ada tantangannya kalo sama yang muda and single, kurang seru...” ujarnya.

Sampai suatu hari Viny jatuh cinta dengan seorang pria single, seorang tour guide yang menemaninya saat berlibur ke China. Cintanya pada sang tour guide begitu besar sehingga Viny rela ’menderita’. Ia yang sehari-harinya mengendarai mobil sedan mengkilap setiap berangkat ke kantor, rela berdesak-desakan dalam bus kota hanya karena sang kekasih berkata, ”Kamu harus coba naik kendaraan umum Vin, karena kalo nanti kita menikah, kamu harus siap hidup susah sebab aku bukan orang kaya.”

Begitu juga soal make up. Viny yang terbiasa menggunakan make up impor dengan harga per item-nya mencapai ratusan ribu rupiah, kini rela menggunakan make up ’murah’ yang per item-nya berharga di bawah lima puluh ribu rupiah. Viny berubah drastis...

Aku masih ingat saat Viny tiba-tiba menelepon dan mengajakku bertemu. Kulihat matanya bengkak dan sembab. Ia habis menangis semalaman. Dari bibirnya yang mungil kudengar cerita mengejutkan. Hubungannya dengan Jimmy telah berakhir.

Selama ini Jimmy hanya memanfaatkan Viny. Ia tidak pernah benar-benar mencintai Viny. Jimmy mencintai Viny karena hartanya. Renggangnya hubungan mereka dimulai sejak Jimmy mendapati Viny berkata jujur tentang kondisi ekonominya.

”Semua barang-barang berharga yang aku punya, milik ayahku. Jadi kalau kita nanti menikah, semua barang-barang  ini tidak akan aku bawa,” ucap Viny saat mereka sedang menikmati makan malam berdua.

Viny merasa sejak saat itulah Jimmy mulai menjauh darinya. Jimmy mulai jarang telepon. Saat Viny berusaha menghubungi, Jimmy mereject bahkan mematikan HP-nya. Puncaknya saat Jimmy kembali dari tugasnya sebagai tour guide. Mereka berpisah...

Sepenggal lagu Friday I’m in Love-nya The Cure tiba-tiba mengalun dari HP Viny. “Hallo… iya mas, sebentar lagi aku ke kampus, dag... love you too,” katanya ceria.
”Siapa Vin?” tanyaku spontan.
”Mas Radith, temen kuliah gue.”
”TTM* atau MBA**?”
”MBA dong...” katanya sambil cekikikan.

----
Di dalam taksi yang membawaku pulang, aku melamun. Terbayang sangat jelas wajah pria yang selama ini kurindu. Wajah almarhum ayahku. Aku sangat memuja ayah. Ayah adalah pahlawanku. Tak ada orang di dunia ini yang menyayangi dan memanjakanku seperti yang ayah lakukan.

Sudah sekitar 10 tahun ayah dipanggil Yang Kuasa. Sejak saat itu pula aku  berusaha mencari kasih sayang ayah yang hilang di antara banyak pria. Aku begitu haus mencari hingga tak terhitung berapa banyak pria muda, duda maupun pria matang lainnya yang telah kukencani. Tapi aku belum berhasil menemukan apa yang kucari.

Aku menghela nafas panjang. Di luar hujan mulai turun, makin lama semakin deras. Airnya berebut menyapu kaca jendela taksi seolah ingin membantu menghapus kegelisahanku yang terus mencari...

******

*TTM : Teman Tapi Mesra
**MBA: Married But Available

2 comments:

  1. Wuihhh....cerpennya bagus banget, sangat menggugah dan inspiratif, memang untuk hasil yang sempurna sebelum melangkah harus dipikirkan matang-matang daripada setengah jalan tapi sudah merasa tidak nyaman, yang terpenting syukuri hidup dan jalani apa yang ada, saya tunggu edisi berikutnya ya?...pissssss........... :)

    ReplyDelete
  2. Keduax :p

    Nice Story

    Mumpung masih muda, cari pengalaman dan ilmu sebanyak mungkin^^.

    kalo soal jodoh, serahkan pada Tuhan.
    kalau memang sudah waktunya, pasti bakal dapet juga kok:)

    ReplyDelete